Senyum Indah di Kota Fez.

1/28/2015
Sudah dua tahun lebih aku berada di Maroko dan kini memasuki tahun ketiga studiku menempuh S1 di Uneversitas Ta’limul Atiq Imam Nafie,Tangeir. Sebuah kota dimana sang pengembara dunia Ibnu
Batutah dimakamkan yang tempatnya tidak jauh dari apartemen dimana kami tinggal . Di sela-sela kesibukan belajar, aku berusaha untuk mengetahui banyak hal tentang Maroko dan salah satu tempat yang pertamkali ingin aku kunjungi ketika aku baru menetap selama setahun adalah kota Fez yang terkenal dengan kota ilmu.


Menurut informasi yang aku terima, Maroko adalah negeri gudangnya ulama, tempat munculnya para wali dan intelektual muslim. Sejak dulu hingga sekarang, tradisi ilmiahnya tetap terpelihara. Karena itu, negeri kerajaan berpenduduk kurang lebih 40 juta jiwa ini sangat cocok untuk menjadi lokasi belajar Islam. Salah satu kota yang sampai sekarang masih intens dengan kajian ilmiah dan terkenal dengan tarekat sufinya adalah kota Fez, sehingga kota tersebut di juluki kota ilmu pengetahuan. Hal lain yang menjadikan kota Fez mendapat gelar kota ilmu pengetahuan adalah karena banyaknya ulama dan intelektual muslim yang terkenal lahir di kota ini.


Dari beberapa cerita tentang kota Fez dari teman-temanku yang sudah lama tinggal di Maroko membuat hatiku tertarik untuk mengunjungi kota tersebut. Sebetulnya, untuk sampai ke kota Fez  tidak membutuhkan waktu yang lama, hanya saja butuh waktu yang tepat mengingat padatnya jam kuliah saya di kampus. Sebelum saya menginjakan kaki di kota Fez, sebulan sebelumnya saya harus mengagendakannya terlebih dahulu. Tepatnya di penghujung musim dingin selepas ujian akhir semester saya beranjak dari apartemen dimana saya tinggal menuju kota Fez.  Dari berbagai transportasi yang ada saya lebih memilih menggunakan kretea api, meski tiketnya lebih mahal sedikit tapi keamanannya terjaga dan kenyamanannya pun lebih terasa.

Ketika sampai di La Gare de Fez (stasiun Fez) saya bertemu dengan dua orang Indonesia yang sudah menunggu di depan stasiun. Kedatangan mereka berdua memang sudah di rencanakan tiga hari sebelumnya, mereka semua adalah teman-temanku semua yang sedang belajar di kota Fez. Tujuan kedatanganku yang pertama yaitu ziarah ke makam Syeikh Tijani penggagas tarekat Tijaniyah yang merupakan salah satu thariqat mu'tabaroh dan sah dan banyak pengikutnya di Indonesia. Nama lengkapnya adalah Syeikh Ahmad bin Muhammad at- Tijani, lahir 13 Safar 1150 H, dan wafat pada tanggal 17Syawal 1230 H.

Bertemu dengan dzurriyah Syeikh Tijani.

Setelah berbincang-bincang sebentar kamipun segera meneruskan perjalanan menuju makam Syeikh Tijani dengan menggunakan taxi petit (taxi kecil), di samping ziarah kamipun meluangkan waktu agar bisa bertemu langsung dengan dzurriyah Syeikh Tijani. ”Alhamdulillah ahirnya hajat itu terkabul juga” syukurku dalam hati. Dimakam ini aku bersama-sama temanku melakukan tahlil dan doa bersama semoga selama menimba ilmu di Maroko kami mendapatkan ilmu yang barokah dan manfaat.

Setelah itu aku menanyakan hal lain yang menarik dan bersejarah tentang kota Fez kepada salah satu teman yang menemani perjalananku. Menurut temanku, hal lain yangmenarik dari kota Fez adalah karena banyaknya karya dan buah pemikiran para ulama-ulamanya yang sampai sekarang karyanya masih terus dikaji diberbagai pesantren belahan nusantara. 

Bagi temen-temen yang ada dipesantren tentunya sudah tidak asing lagi ketika mendengar  kitab Jurumiyyah. Jurumiyah, kitab ilmu tata bahasa Arab (Nahwu) yang ditulis oleh Syeh Abu Abdulloh Muhammad bin Muhammad bin Daud as-Shonhaji, atau yang dikenal dengan Ibnu al Jurrumy. Ternyata beliau adalah orang Maroko yang wafat pada tahun 723H dan di makamkan di kota Fez. Hanya saja sampai sekarang aku belum mendapatkan data valid tentang keberadaan makamnya.  Saat ini kota Fez menjadi salah satu lokasi wisata religi yang sangat terkenal tak ayal jika banyak sekali tamu danorang-orang yang penting ketika berkenjung ke Maroko salah satu tujuan utamanya adalah berkunjung ke kota Fez.

Senyum indah di kota Fez, Maroko.

Tak terasa, kumandang adzan ashar terdengar merdu darimasjid Qurawiyyin yang berdekatan dengan makam Syeikh Tijani. Kamipun memutuskan untuk melakukan sholat ashar berjamah di masjid yang didalamnya terdapat makam syeikh at-Tijani, usia salam kami langsung menuju ke asrama dimana teman-temanku tinggal disana agar bisa istirahat lebih nyaman. Ketika langkah kaki keluar dari gerbang masuk menuju makam syeikh at-Tijani tanpa sengaja kami melihat spanduk berwarna putih tertempel di salah satu dinding hotel milik penduduk kota Fez yang bertuliskan ”Senyum, kau di Fez” yang ditengahnya terdapat gambar kepala kartun tersenyum memakai kopiah khas Maroko berwarna merah terlihat sangat lucu sekali, seolah mengajak tersenyum bagi siapa saja yang memandangi gambar tersebut.

Setelah beberapa detik memandangi tulisan beserta gambar tersebut akupun terhipnotis dan tanpa aba-aba bibir ini ikut tersenyum indah dan bangga karena, dari kesembilanbelas kalimat yang menggunakan bahasa yang berbeda namun memiliki arti yang sama, bahasa indonesia berada di urutan yang ketiga berdekatan dengan kalimat bahasa arab yang menjadi bahasa resmi Maroko.

Yang jelas aku sendiri tidak tau pastinya apa alasan dan maksud penulisan kalimat tersebut dengan menggunakan bahasa yang berbeda-beda. Yang jelas rasa lelah dan letihku seketika itu terobati setelah beberapa menit menatap khusyu tulisan itu dan menirukan senyum indah seperti gambar yang ada disampingtulisan itu. Ini hanyalah catatan kecil perjalananku ketika pertamakali menuju kota Fez.

Sumber:Kusnadi El Ghezwa

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »